Thursday, June 16, 2011

People often take the name of one of their great and powerful personalities at the time of doing or beginning a work. By this association, it is believed, the work would achieve success, great­ness and blessings; or that it would be a memorial to keep the named one’s memory alive for ever. This is also observed in naming a child, a project, a house or an association - they give it the name of a deeply loved or highly respected person, so that his name would continue in this form; for example, a man names his son after his father, in order to perpetuate the father’s memory.

This verse runs on the same line. Allāh began His speech with His Own name - Great is His name - so that the ideas taught in this chapter be stamped by, and associated with it. Also, it teaches a lesson to mankind, showing them the perfect manner of starting all their talks and actions; it guides them to put the stamp of the divine name on all their activities; doing every work for the sake of Allāh, associating it with His good names and attributes. In this way that action would neither be rendered null and void, nor remain incomplete; it has been started in the name of Allāh, and negation and annihilation cannot reach that sacred name.

Allāh has declared variously in the Qur’ān that what is not for His Person must perish, is in vain; He will proceed to the deeds not done for His sake and shall render them as scattered floating dust; He shall forfeit what they have done and shall nullify their deeds; and that nothing shall remain except His honoured Person.

Therefore, what is done for the sake of Allāh and performed in His name, shall continue and will not perish. Everything, every work and every affair shall have its share of eternity - as much as it is related to Allāh. It is this reality that has been hinted at in the universally accepted tradition of the Prophet: “Every important affair, not begun with the name of Allāh, shall remain incomplete…”

Kisah Nafsu Yang Degil Dengan Perintah Allah

Dalam sebuah kitab karangan 'Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syaakir Alkhaubawiyi, seorang ulama yang hidup dalam abad ke XIII Hijrah, menerangkan bahawa sesungguhnya Allah S.W.T telah menciptakan akal.
Maka Allah S.W.T telah berfirman yang bermaksud : "Wahai akal mengadaplah engkau." Maka akal pun mengadap kehadapan Allah S.W.T., kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Wahai akal berbaliklah engkau!", lalu akal pun berbalik. Kemudian Allah S.W.T. berfirman lagi yang bermaksud : "Wahai akal! Siapakah aku?". Lalu akal pun berkata, "Engkau adalah Tuhan yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang daif dan lemah." Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Wahai akal tidak Ku-ciptakan makhluk yang lebih mulia daripada engkau." Setelah itu Allah S.W.T menciptakan nafsu, dan berfirman kepadanya yang bermaksud : "Wahai nafsu, mengadaplah kamu!". Nafsu tidak menjawab sebaliknya mendiamkan diri. Kemudian Allah S.W.T berfirman lagi yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau." Setelah itu Allah S.W.T menyiksanya dengan neraka jahim selama 100 tahun, dan kemudian mengeluarkannya. Kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau." Lalu Allah S.W.T menyiksa nafsu itu dalam neraka Juu' selama 100 tahun. Setelah dikeluarkan maka Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Akhirnya nafsu mengakui dengan berkata, " Aku adalah hamba-Mu dan Kamu adalah tuhanku." Dalam kitab tersebut juga diterangkan bahawa dengan sebab itulah maka Allah S.W.T mewajibkan puasa.Dalam kisah ini dapatlah kita mengetahui bahawa nafsu itu adalah sangat jahat oleh itu hendaklah kita mengawal nafsu itu, jangan biarkan nafsu itu mengawal kita, sebab kalau dia yang mengawal kita maka kita akan menjadi musnah. 

cr ;